BLOG WiBie 14 12 BiYeDa BLOG

FILSAFAT PENDIDIKAN

 
A. Pengertian Filsafat Pendidikan

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.

Beberapa aliran filsafat pendidikan:

· Filsafat pendidikan progresivisme. yang didukung oleh filsafat pragmatisme.

· Filsafat pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan

· Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.

Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

B. Subjek/ Objek Filsafat Pendidikan

Berfikir merupakan subjek dari filsafat pendidkan akan tetapi tidak semua berfikir berarti berfilsafat. Subjek filsafat pendidikan adalah seseorang yang berfikir/ memikirkan hakekat sesuatu dengan sungguh dan mendalam tentang bagaimanan memperbaiki pendidikan.

Objek filsafat, objek itu dapat berwujud suatu barang atau dapat juga subjek itu sendiri contohnya si aku berfikir tentang diriku sendiri maka objeknya adalah subjek itu sendiri. Objek filsafat dapat dibedakan atas 2 hal :

1. Objek material adalah segala sesuatu atau realita, ada yang harus ada dan ada yang tidak harus ada.

2. Objek formal adalah bersifat mengasaskan atau berprinsi dan oleh karena mengasas, maka filsafat itu mengkonstatis prinsip-prinsip kebenaran dan tidak kebenaran

C. Ruang Lingkup Filsafat

Filsafat sebagai induk ilmu-ilmu lainnya pengaruhnya masih terasa. Setelah filsafat ditingkalkan oleh ilmu-ilmu lainnya, ternyata filsafat tidak mati tetapi hidup dengan corak tersendiri yakni sebagai ilmu yang memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh ilmu-ilmu khusus. Akan tetapi jelaslah bahwa filsafat tidak termasuk ruangan ilmu pengetahuan yang khusus. Filsafat boleh dikatakan suatu ilmu pengetahuan, tetapi obyeknya tidak terbatas, jadi mengatasi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya merupakan bentuk ilmu pengetahuan yang tersendiri, tingkatan pengetahuan tersendiri. Filsafat itu erat hubungannya dengan pengetahuan biasa, tetapi mengatasinya karena dilakukan dengan cara ilmiah dan mempertanggungjawabkan jawaban-jawaban yang diberikannya.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Filsafat Pendidikan

Pandangan fislafat pendidikan sama dengan perananya merupakan landasan filosofis yang menjiwai seluruk kebijaksanaan pelaksanaan pendidikan. Dimana landasan filsofis merupakan landasan yang berdasarkan atas filsafat. Landasan filsafat menalaah sesautu secara radikal, menyeluruh, dan konseptual tentang religi dan etika yang bertumpu pada penalran. Oleh karena itu antara filsafat dengan pendidikan sangat erat kaitannya, dimana filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarkaat sedangkan pendidikan berusahan mewujudkan citra tersebut.

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.

Filsafat mengadakan tinjauan yang luas mengani realita, maka dikupaslan antara lain pandangan dunia dan pandangan hidup. Konsep-konsep mengenai ini dapat menjadi landasan penyusunan konsep tujuan dan metodologi pendidik. Disamping itu, pengalaman pendidik dalam menuntut pertumbuhan danperkembangan anak akan berhubungan dan berkenalan dengan realita. Semuanya itu dapat disampaikan kepada flsafat untuk dijadikan bahan-bahan pertimbangan dan tinjauan untuk memperkembangkan diri. Hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut :

a. Filsafat mempuyai objek lebih luas, sifatnya universal. Sedangkan filsafat pendidikan objeknya terbatas dalam dunia filsafat pendidikan saja.

b. Filsafat hendak memberikan pengetahuan/ pendiidkan atau pemahaman yang lebih mendalam dan menunjukkan sebab-sebab, tetapi yang tak begitu mendalam.

c. Filsafat memberikan sintesis kepada filsafat pendidikan yang khusus, mempersatukan dan mengkoordinasikannya.

d. Lapangan filsafat mungkin sama dengan lapangan filsafat pendidikan tetapi sudut pandangannya berlainan

Dalam menerapkan filsafat pendidikan, seoran guru sebagai pendidik dia mengharapkan dan mempunyai hak bahwa ahli-ahli filsafat pendidikan menunjukkan dirinya pda masalah pendiidkan pad aumumnya serta bagaimna amasalah itu mengganggu pada penyekolhan yang menyangkut masalah perumusan tujuan, kurkulum, organisasi sekolah dan sebagainya. Dan para pendidik juga mengahrapkan dari ahli filsafat pendiidkan suatu klasifikasi dari uraian lebih lanjut dari konsep, argumen dirinya literatur pendidikan terutam adalam kotraversi pendidikan sistem-sistem, pengjuian kopetensi minimal dan kesamaan kesepakatan pendidikan.

Brubacher (1950) mengemukakan tentang hubungan antara filsafat dengan filsafat pendidikan, dalam hal ini pendidikan : bahwa filsafat tidak hanya melahirkan sains atau pengetahuan baru, melainkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Filsafat merupakan kegiatan berpikir manusia yang berusaha untuk mencapai kebijakan dankearifan. Sedangkan filsafat pendidikan merupakan ilmu ayng pad ahakekantya jawab dari pertanyaa-pertanyaan yagn timbul dalam lapangan pendidkan. Oleh karen aberisfat filosofis, dengan sendirinya filsafat pendidikan ini hakekatnya adalah penerapan dari suatu analisa filosofis terhadap lapangan pendidikan.

B. Subjek/ Obyek Filsafat Pendidikan

Subjek filsfat adalah seseroang yang berfikir/ memikirkan hakekat sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Seperti halnya pengetahuan, Maka filsafatpun (sudut pandangannya) ada beberapa objek yang dikaji oleh filsafat

1. Obyek material yaitu segala sesuatu yang realitas

a. Ada yang harus ada, disebut dengan absoluth/ mutlak yaitu Tuhan Pencipta

b. Ada yang tidak harus ada, disebut dengan yang tidak mutlak, ada yang relatif (nisby), bersifat tidak kekal yaitu ada yang diciptakan oleh ada yang mutlak (Tuhan Pencipta alam semesta)

2. Obyek Formal/ Sudut pandangan

Filsafat itu dapat dikatakan bersifat non-pragmentaris, karena filsafat mencari pengertian realitas secara luas dan mendalam. Sebagai konsekuensi pemikiran ini, maka seluruh pengalaman-pengalaman manusia dalam semua instansi yaitu etika, estetika, teknik, ekonomi, sosial, budaya, religius dan lain-lain haruslah dibawa kepada filsafat dalam pengertian realita.

Menurut Prof Dr. M. J. Langeveld : “……bahwa hakikat filsafat itu berpangkal pada pemikiran keseluruhan sarwa sekalian scara radikan dan menurut sistem”.

a. Maka keseluruhan sarwa sekalian itu ada. Ia adalah pokok dari yang dipikirkan orang dalam filsafat.

b. Ada pula pikiran itu sendiri yang terhadap dalam filsafat sebagai alat untuk memikirkan pokoknya.

c. Pemikiran itupun adalah bahagian daripada keseluruhan, jadi dua kali ia teradapat dalam filsafat, sebagai alat dan sebagai keseluruhan sarwa sekalian

Menurut Mr. D. C Mulder menulis sebagai berikut :

“ Tiap-tiap manusia yang mulai berpikir tentang diri sendiri dan tentang tempatnya dalam dunia, akan mengahdapi beberapa persoalan yang begitu penting sehingga persoalan-persoalan itu boleh diberi nama persoalan-persolan pokok”.

Louis Kattsoff mengatakan lapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya yaitu meliputisegala pengetahuan manusia serta segala sesuatu apa saja yang ingin diketahui manusia. Dr. A. C Ewing mengatakan bahwa kebenaran, materi, budi, hubungan materi dan budi, ruang dan waktu, sebab, kemerdekaan, monisme lawan fluarlisme dan tuhan adalah termasuk pertanyaan-pertanyaan poko filsafat

C. Ruang Lingkup Filsafat

Para ahli mengatakan bahwa ruang lingkup dari ilmu filsafat yaitu :

Ø Tentang hal mengerti, syarat-syaratnya dan metode-metodenya.

Ø Tentang ada dan tidak ada.

Ø Tentang alam, dunia dan seisinya.

Ø Menentukan apa yang baik dan apa yang buruk.

Ø Hakikat manusia dan hubungannya dengan sesama makhluk lainnya.

Ø Tuhan tidak dikecualikan.

Filsafat itu erat hubungannya dengan pengetahuan biasa, tetapi mengatasinya karena dilakukan dengan cara ilmiah dan mempertanggungjawabkan jawaban-jawaban yang diberikannya.

Filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai sifat-sifat ilmu pengetahuan tapi. Akan tetapi jelaslah bahwa filsafat tidak termasuk ruangan ilmu pengetahuan yang khusus. Filsafat boleh dikatakan suatu ilmu pengetahuan, tetapi obyeknya tidak terbatas, jadi mengatasi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya merupakan bentuk ilmu pengetahuan yang tersendiri, tingkatan pengetahuan tersendiri.

Para ahli mengatakan bahwa ruang lingkup dari ilmu filsafat yaitu :

a. Tentang hal mengerti, syarat-syaratnya dan metode-metodenya.

b. Tentang ada dan tidak ada.

c. Tentang alam, dunia dan seisinya.

d. Menentukan apa yang baik dan apa yang buruk.

e. Hakikat manusia dan hubungannya dengan sesama makhluk lainnya.

f. Tuhan tidak dikecualikan.

Ruang lingkup dari filsafat yaitu :

1) Tentang pengetahuan : logika yang memuat :

a. Logika formil yang mempelajari asas-asas atau hukum-hukun berpikir yang harus ditaati agar kita dapat berpikit dengan benar dan mencapai kebenaran. jadi bagaimana orang harus berpikir dengan baik dan aturan-aturan untuk itu. Hukum-hukum logika berlaku dan penting bagi semua ilmu pengetahuan lainnya pula, bagi filsafat merupakan alat yang harus dikuasai lebih dahulu.

b. Logika materiil kritik (epistimologi)

Yang memandang ilmu pengetahuan (materil) dan bagaimana isi ini dapat

dipertanggungjawabkan. Jadi mempelajari perihal :

1. Sumber dan asal pengetahuan

2. Alat-alat pengetahuan

3. Proses terjadinya pengetahuan

4. Kemungkinan dan batas pengetahuan

5. Kebenaran dan kekeliruan

6. Metode ilmu pengetahuan dan lain-lain.

2) Tentang “ada” : metafisika atau ontology

Hal ini mengupas tentang :

a. Apakah arti ada itu?

b. Apakah kesempurnaannya ada itu?

c. Apakah tujuannya ada itu?

d. Apakah sebab dan akibat?

e. Apakah yang merupakan dasar yang terdalam dari setiap barang yang ada itu?

3) Tentang dunia material : kosmologi

Hal ini membicarakan tentang asal mula atau sumber dan susunan atau struktur dari alam semesta.

4) Tentang manusia : filsafat tentang manusia.

Orang mengetahui tentang “ada” itu dari adanya sendiri.

5) Tentang kesusilaan : etika

Manusia itu yakin dan wajib berbuat baik dan menghindarkan yang tidak baik itu menimbulkan berbagai soal, yaitu :

a. Apakah yang disebut baik itu?

b. Apakah yang buruk itu?

c. Apakah ukuran baik atau buruk itu?

d. Apakah suara batin itu?

e. Apakah kehendak bebas?

f. Apakah artinya kepribadian itu?

6) Tentang Tuhan : Theodyca

Hal inilah yang merupakan konsekuensi terakhir dari seluruh pandangan filsafat. Renungan tentang pengetahuan kita itu membuktikan bahwa manusia itu bukan sumber sari segala-segalanya, bukan sumber daripada segala pengetahuan.

Singkatnya bahwa ia bukan yang mutlak, sebab itu harus dicari sumber yang terdalam dan sebab yang terakhir, yang mengatasi manusia sendiri dan dunia.


BAB IV

KESIMPULAN

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Objek filsafat, objek itu dapat berwujud suatu barang atau dapat juga subjek itu sendiri contohnya si aku berfikir tentang diriku sendiri maka objeknya adalah subjek itu sendiri. Objek filsafat dapat dibedakan atas 2 hal :

a. Objek material adalah segala sesuatu atau realita, ada yang harus ada dan ada yang tidak harus ada.

b. Objek formal adalah bersifat mengasaskan atau berprinsi dan oleh karena mengasas, maka filsafat itu mengkonstatis prinsip-prinsip kebenaran dan tidak kebenaran.

c. Para ahli mengatakan bahwa ruang lingkup dari ilmu filsafat yaitu :

1. Tentang hal mengerti, syarat-syaratnya dan metode-metodenya.

2. Tentang ada dan tidak ada.

3. Tentang alam, dunia dan seisinya.

4. Menentukan apa yang baik dan apa yang buruk.

5. Hakikat manusia dan hubungannya dengan sesama makhluk lainnya.

6. Tuhan tidak dikecualikan.





Trimakasih... jika ada yang kurang mohon di lengkapi...



Teori Kritis Madzhab Frankfrut

        Pemikiran kritis Mazhab Frankfurt disebut juga dengan nama “Teori Kritis” atau Kritische Theorie. Mazhab Frankfurt yang diidentikkan dengan Teori Kritis ini dikenalkan oleh sebuah lembaga yang dibentuk di Universitas Frankfurt, yaitu Institut fur Socialforschung (Institut Penelitian Sosial) yang didirikan pada tahun 1923. Institut ini merupakan salah satu jurusan resmi di universitas tersebut. Perintisnya adalah seorang sarjana ilmu politik bernama Felix Weil.

Perlu diketahui, sebagai “mazhab” atau “aliran” yang dipahami sebagai arus pemikiran kritis, oleh berbagai kalangan, aliran ini kemudian dikenal dengan sebutan “Mazhab Franfurt”. Dan pada perkembangan mazhab ini, yang paling dikenal sebagai Generasi Pertama Teori Kritis adalah Max Horkheimer (yang menjadi direktur sejak 1930), Theodor Wiesengrund-Adorno (yang menjadi direktur sejak 1951), dan Herbert Marcuse. Sedangkan Generasi Kedua Teori Kritis dari Mazhab Frankfurt adalah Jurgen Habermas yang merupakan filsuf paling kondang di zaman ini. Awalnya, pemikiran Mazhab Frankfurt dikenal sebagai Teori Kritis melalui majalah yang didirikan oleh Max Horkheimer, yaitu Zeitschrift fur Socialforschung.

Kritik Atas Positivisme

Teori kritis yang berkembang pada Mazhab Frankfurt menggunakan pendekatan kritik dalam arti Hegelian, Kantian, Freudian, dan Marxian (Hardiman 2009;52-59). Teori Kritis Mazhab Frankfurt tidak seperti ilmu alam yang memiliki metodologis berurat berakar, teori kritis lebih tepat di katakan merupakan program metodologis jangka panjang yang selalu di perbaiki dan di perlengkapi dengan wawasan baru. Secara singkat, dapat di katakan teori kritis memiliki kehendak lewat maksud menyusun suatu “teori dengan maksud praktis”.

Sebelumnya, seluruh program teori kritis Mazhab Frankfurt dapat dikembalikan pada sebuah manifesto yang di tulis dalam Zeitschrift tahun 1937 oleh Horkheimer. Konsep teori kritis pertama kali muncul dalam artikel Horheimer yang berjudul Traditionelle und kritische Theorie (Teori Tradisional dan Teori Kritis). Artikel ini mengkritik teori tradisional yang dianggapnya teori yang disinterested yang jatuh pada saintisme dan positivisme. Oleh Horkheimer, positivistik digolongkan ke dalam teori tradisional karena berusaha menerapkan teori ilmu-ilmu empiris-analitis atau pendekatan ilmu alam, untuk menjelaskan kenyataan sosial masyarakat.

Menurut Horkheimer, cara kerja teori tradisional tidak saja dengan cara deduktif tetapi juga Induktif. Yakni bertolak dari hukum yang sudah di rumuskan menuju kepada fakta konkret yang dipandang tunduk pada hukum umum itu, tetapi juga bertolak dari pengamatan data khusus dan mengambil kesimpulan umum darinya, yang menjadi suatu “hukum”. Dengan kedua metode inilah menurut Horkheimer, meminjam istilah Edmund Husserl, bahwa teori tadisional memiliki “sistem tertutup”, yaitu bahwa ilmu-ilmu (cara kerja teori tradisional) tidak hanya sukses menjelaskan fakta, tetapi juga sukses memanipulasi, memprediksi dan mendayagunakan. Hal inilah yang disebutnya menjadi pendorong para pemikir-pemikir (akademisi abad modern) untuk menerapkan metode deduktif-induktif pada ilmu sosial budaya atau menjelaskan gejala sosial kemanusiaan. Perihal ini mengakibatkan teori tradisional terselubung dalam “ideologi ketat” dari teori positivistik di dalamnya. Selubung “ideologis” inilah yang ingin dibuka Horheimer dengan memaparkan tiga pengandaian dasar yang termuat dalam artikelnya. Pertama, teori tradisional mengandaikan bahwa pengetahuan manusia tidak menyejarah atau bersifat ahistoris. Dalam wawasan teori ini, kegiatan berteori harus di lakukan dengan cara memisahkan unsur subjektif dari teori. Berdasarkan ciri ahistorisnya itu maka tampak pengandaian kedua dari teori tradisional, yakni bahwa mengenai fakta atau objek yang diketahui oleh pengetahuan teoritikus bersifat netral; dan bertolak dari netralitasnya tampak pula pengandaian ketiga, yakni bahwa teori dapat di pisahkan dari praxis, proses penelitian dapat di pisahkan dari tindakan etis, dan pengetahuan dapat dipisahkan dari kepentingan. Karena berusaha mencapai status teori demi teori dengan tidak mempengaruhi objeknya, teori tradisional membenarkan dan membiarkan fakta itu tanpa menarik konsekwensi praktis untuk mengubahnya.

Horkheimer kemudian menganalisa bahwa jika teori semacam itu diterapkan pada kenyataan sosial kemasyarakatan, teori menjadi bersifat ideologis dan menjadi penjaga status quo yang bersifat menindas. Horkheimer menggambarkan sifat ideologis ini lewat tiga gejala. Pertama, dengan anggapan bahwa teori itu ahistoris, Teori tradisional mengklaim dirinya universal, berlaku dimana saja secara transenden dan suprasosial, sehingga dengan demikian melupakan proses kehidupan konkret di dalam masyarakat riil. Kedua, dengan anggapan bahwa teori itu bersifat netral, Teori tradisional berdiam diri terhadap masyarakat yang menjadi objeknya dan membenarkan keadaan tanpa mempertanyakannya. Ketiga, dengan memisahkan diri dari praxis, Teori tradisional mengejar teori demi teori dan tidak memikirkan implikasi praxis dari teori itu. Dengan jalan ini pula teori tradisional tidak bertujuan mengubah keadaan, malah melestarikan status quo masyarakat.

Lebih jauh, Horkheimer mengatakan bahwa teori mengenai masyarakat yang tidak netral, ahistoris dan lepas dari praxis itu, harus bersifat “kritis”. Horkheimer mencoba menerangkan kata “kritis” tersebut dengan memakai arti kritik menurut pemikiran Hegelian dan Marxian lewat metode dialektika Marxis, akan tetapi berbeda dengan Marx dan Hegel, teori Kritis Horheimer memakai metode dialektika tertentu yang mengarah ke masa depan atau apa yang mereka sebut Unabgeschlosenne Dialektik (Dialektik Terbuka).


Dengan metode dialektis, menurut Horkheimer, Teori kritis memiliki empat karakter. Pertama, bersifat historis (sesuai dengan kenyataan), kedua di susun berdasarkan kesadaran dan keterlibatan historis dari para pemikirnya (evaluasi, kritik dan refleksif terhadap dirinya sendiri), Ketiga, membongkar kedok ideologis, manipulasi, ketimpangan dan kontradiksi dalam masyarakat. Dan yang keempat, Teori kritis merupakan teori dengan maksud praxis, merupakan komitmen praktis sang pemikir kritis di dalam sejarahnya. Dengan cara ini, Teori Kritis menjadi tidak netral.

Sebagai Manifesto atau program jangka panjang dari Mazhab Frankfurt, artikel Horkheimer belum secara jelas merumuskan dasar epistimologis teori kritis. Akan tetapi, dalam artikel itu, Horkheimer membedakan dengan jelas dua macam ilmu pengetahuan dengan dua macam metodologi yang berbeda satu sama lain oleh karena objeknya juga berbeda, yaitu ilmu-ilmu alam yang menganut konsep Teori Tradisional dan ilmu-ilmu kemanusiaan yang di harapkan menganut konsep Teori Kritis.

Kritik Atas Masyarakat Modern

Potret terhadap rasionalitas masyarakat modern coba untuk disoroti oleh Adorno dan Horkheimer, berdasarkan praktik teknokratisme dan stalinis. Menurut mereka ilmu dan teknologi ternyata sama berubah menjadi mitos baru. Lewat karya bersama Dialektik der Aukflarung, mereka mengatakan bahwa masyarakat modern telah membuat struktur masyarakat baru yang yang saling mendominasi, serta berpikir positivistik yang menjadi ideologi dan mitos baru.

Lebih radikal lagi menurut Adorno dan Horkheimer, rasio kritis (modernitas) ternyata tak kurang dari mitos baru dalam bentuk yang lebih halus, lebih luhur, dan lebih dapat diterima oleh orang modern. Istilah Dialektika Pencerahan ini merujuk pada kondisi terjalinnya atau kait-mengaitnya antara mitos dan rasio. Istilah ini merupakan pendirian yang mencolok dari Mazhab Frankfurt bahwa teori kritis yang dilandasi rasio kritis itu sendiri berubah menjadi mitos atau ideologi dalam bentuk baru. Emansipasi masyarakat (memerangi proses mekanisasi masyarakat dalam bentuk sistem ekonomi dan administrasi birokratis), yang menjadi keprihatinan mereka, dilukiskan sebagai gerakan sia-sia dalam mitos demi mitos yang tak kunjung habis.

Kritik serupa dilontarkan Marcuse dalam One-Dimensional Man. Dalam karya ini, situasi masyarakat industri maju dilukiskan sebagai masyarakat berdimensi tunggal. Dengan hilangnya dimensi kedua, negasi atau perlawanan terhadap sistem masyarakat hanya mengadaptasi dominasi total teknokratisme. Kalau emansipasi pada gilirannya berubah menjadi dominasi baru. Dengan kata lain, sebuah kritik rasional menjadi mustahil. Akibatnya, dalam masyarakat dewasa ini juga tertutuplah ruang untuk kritik rasional itu, sebab dominasi telah total.

Jurgen Habermas yang kemudian tampil sebagai pembaharu teori kritis tidak sekedar menilai para pendahulunya memiliki kelemahan-kelemahan epistemologis yang mengantar mereka ke jalan buntu itu, melainkan juga memberi sebuah pemecahan mendasar yang sangat subur untuk meneruskan “proyek” teori kritis ala Frankfurt tersebut. Ide teori kritis belum berakhir. Habermas menyuburkannya kembali dalam paradigma baru.


WiBi WaHiB. Diberdayakan oleh Blogger.

Archive

WIBIE1412BIYEDA

TENTANG KU

Foto Saya
Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia
BLOG 14&12

Temukan artikel menarik di sini

Followers

TIK-TOK-TIK-TOK

statistik blog

Popular Posts

gambar